Pancasila dan Pendidikan Multikultural


Oleh: Anna Maria, M.Pd.

Multikultural atau disebut juga dengan keberagaman kultur. Indonesia memiliki keberagaman  meliputi suku bangsa, ras, agama kepercayaan, dan adat istiadat, serta status sosial. Fakta hirtoris menunjukkan bahwa keberagaman yang tidak diringi dengan semangat persatuan akan menjadi kelemahan. Sebaliknya tonggak sejarah tahun 1928 dan seterusnya hingga puncak perjuangkan pada tahun 1945 menunjukkan bahwa semangat persatuan menjadi sumber kekuatan untuk mengusir  penjajah. Keberagaman di Indonesia adalah suatu keniscayaan sampai kapanpun, malah zaman sekarang dan selanjutnya kerberagaman akan semakin meningkat dengan pengaruh kultur global. Situasi seperti ini yang akan dihadapi peserta didik, untuk itu pendidikan multikultural menjadi bagian tanggungjawab sekolah supaya generasi yang dihasilkan memiliki kecakapan skill dan sukses dalam hidup di masyarakat yang multikultur.

Selain pelaksanaan pendidikan multikultural  karena tntutan realitas sosial kini dan akan datang, pendidikan multikultural harus dilakukan terutama karena tuntutan nilai – nilai Pancasila. Dengan demikian pancasila adalah sebab dan pendidikan multikultural adalah dampaknya. Hubungan ini dapat dijelaskan secara Ontologis yaitu melakukan kajin tentang  hakekat Pancasila. Hakekat dari Pancasila adalah manusia. Hakekat manusia adalah mahluk monopluralis dan monodualis. Kodrati manusia  monodualis yaitu pada satu sisi adalah mahluk individu dan di sisi lain adalah mahluk sosial, keduanya menyatu dalam pribadi manusia. Kodrati manusia juga mahluk pluralis yaitu memiliki keberagaman unsur-unsur susunan kodrat,  meliputi manusia sebagai : mahluk  jasmani-rohani; mahluk individu – makhluk sosial; mahluk pribadi diri sendiri –  mahkluk Tuhan Yang Maha Esa. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah  kodrati manusia  adalah kemajemukan dalam satu kesatuan yang  menjadi hakekat dari sila-sila Pancasila. Oleh karena itu yang memerlukan kemajemukan dalam kesatuan itu adalah manusianya, negara atau lebih sempit lagi satuan pendidikan sekolah bertindak sebagai pendukung yang menfasilitasi perwujudan kemajemukan tunggal.

Oleh karena nilai Pancasila bersumber dari kodrati manusia, maka wajar kalau nilai – nilai Pancasila sudah dihidupi oleh bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Sejak zaman dulu, nenek moyang kita sudah menyembah roh – roh yang diyakini sebagai penguasa alam semesta yang tidak disebabkan oleh kekuatan lainnya hingga zaman kerajaan yang menganut agama Hindu, Buddha, Islam dan Kristen, serta aliran kepercayaan. Kehidupan ini menunjukan perwujudan nilai sila pertama Pancasila. Sejak nenek moyang juga sudah mengenal  hidup dalam kelompok hingga membentuk paguyuban yang  anggotanya saling menghargai dan menjalin persaudaraan yang erat, setiap individu dalam komunitas bekerjasama untuk memenuhi  keseimbangan kebutuhan jasmani- rohani, mahluk individu dan mahluk Tuhan secara adil sebagai perwujudan sila ke dua  dan ketiga Pancasila. Kehidupan kelompok sejak zaman dahulu sudah mengenal adanya istilah Primus Inter pares, yaitu sistem pemilihan pemimpin melalui musyawarah diantara sesamanya berdasarkan kelebihan yang dimiliki baik secara fisik ataupun spiritual. Kehidupan seperti ini sebagai bukti sudah mempraktekan sistim organisasi  dan melakukan musyarah mufakat yang merupakan inti dari sila ke empat Pancasila. Dalam kehidupan bersama mereka juga berusaha untuk menyelesaikan permasalahan dengan seadil – adilnya dan melakukan pekerjaan secara gotong royong dalam kehidupan kelompok serta memberikan apa yang menjadi hak bagi warga kelompoknya sebagai perwujudan sila ke lima Pancasila. Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian ini adalah nilai – nilai Pancasila sudah ada sejak adanya bangsa Indonesia. Bahkan kata Pancasila sudah dapat ditemukan dalam buku Negarakertagama (1365) karangan Empu Prapanca. Nilai – nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia kemudian pada masa persiapan kemerdekaan diabstraksikan atau dikristalisas oleh Bapak pendiri bangsa menjadi rumusan lima sila yang diberi nama Pancasila atas usulan Ir Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Rumusan sila – sila Pancasila kemudian ditetapkan menjadi dasar negara pada  tanggal 18 Agustus 1945 sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 aline ke empat.  Dengan demikian Pancasila adalah rumusan dari realitas sosial yang kemudian menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila bukanlah merupakan hasil abstraksi cendikiawan atau sekelompok orang yang didoktrinkan sebagai pandangan hidup bangsa.

Abstraksi Pancasila yang bersumber dari realitas sosial salah satunya adalah kemajemukan tunggal baik dalam pribadi manusia maupun dalam kehidupan bersama menjadi rumusan yang kita kenal yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang berarti biarpun berbeda-beda tetap satu juga (kemajemukan Tunggal) yang menjadi identitas bangsa dan diupayakan tercapai dengan memasukan nilai – nilai tersebut ke dalam Undang – Undang atau peraturan yang mengatur  berbagai bidang kehidupan termasuk bidang pendiddikan.

Perwujudan kemajemukan tunggal/ Bhinneka tunggal Ika pada satuan pendidikan adalah dengan meyelenggarakan pendidikan multikultural di sekolah – sekolah Indonesia.  Pendidikan multikultural adalah kegiatan terencana sebagai usaha sadar dan sengaja untuk mengwujudkan suasana dan proses pembelajaran yang mengembangkan kebanggaan siswa akan jati dirinya, jati diri kebangsaan, mengembangkan  wawasan keberagaman, menumbuhkan kecakapan sikap toleran dan egaliter terhadap keberagaman  yang ada dan menerimanya sebagai realitas sosial. Nilai – nilai pendidikan multikultural tercantum dalam UU No.20 Tahun 2003  tentang Sistim Pendidikan Nasional dan terdapat dalam Kurikulum 2013.

Nilai pendidikan multikultural dapat ditemukan dalam pasal 4  UU No.20 Tahun 2003 yang berisi prinsip penyelenggaraan pendidikan antara lain :

  • Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan mejunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai cultural, dan kemajemukan bangsa,
  • Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan system terbuka dan multimakna,
  • Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

 

Dalam kurikulum 2013, juga mengatur tentang nilai pendidikan multikultural yaitu pada kompetensi inti. Kurikulum 2013 membagi kompetensi inti (KI) menjadi 4 yaitu KI-1: sikap spritual, KI-2: Sikap Sosial; KI-3: Pengetahuan ; KI-4: Ketrampilan. Diuraikan KI-2 dalam kurikulum 2013 tingkat SMA adalah menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.  Pendidikan multikultur pada KI-2 ini tampak jelas pada penanaman nilai multikultural yaitu gotong royong, kerjasama, toleran, damai, sikap responsif dan proaktif menyelesaikan masalah dan berinteraksi secara efektif dalam  cakupan lingkup nasional dan global.  Selanjutnya dijelaskan juga bahwa KI-2 seperti tertulis di atas tidak diajarkan, tidak dihafalkan, dan tidak diujikan, tetapi sebagai pegangan bagi pendidik bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran, harus menyampaikan pesan-pesan sosial dan spiritual sangat  penting yang terkandung dalam materinya. Ini berarti sekolah menyeleng-garakan pendidikan multikultural dengan cara:

  • Mengembangkan wawasan multikultur melalui integrasi konten ke dalam mata pelajaran baik mata  baik mata pelajaran agama, akhlak mulia, pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, maupun ke dalam mata pelajaran lainnya yang tertera dalam struktur kurikulum sebagai bagian pelaksanaan pendidikan holistik yang menjadi karakteristik kurikulum 2013. Integrasi konten artinya semua guru mata pelajaran memandukan konten keberagaman budaya dan kelompok dalam menggambarkan konsep, prinsip, generalisasi serta teori disiplin ilmu mata pelajaran. Contoh  guru mata pelajaran Biologi mengajar tentang tanaman kopi  dapat melakukan intgrasi konten misalnya tradisi minum kopi di beberapa daerah di Indonesia. Integrasi konten dilakukan tidak  terbatas pada konteks budaya lokal dan nasional tetapi juga meliputi konteks budaya global dan IPTEK kekinian. Dengan demikian pendidikan multikultural tetap menunjukan jati diri kebangsaan yang tidak ketinggalan dari perkembangan global serta tidak masuk kedalam paham chauvenisme.
  • Guru mempraktekan pedagogi kesetaraan yaitu menggunakan beragam gaya mengajar yang konsisten dengan banyaknya gaya belajar  yang ada pada berbagai budaya dan ras siswa yang ada di kelas. Pendekatan belajar berupa kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk membiasakan sikap menerima, toleran  terhadap berbagai keragaman sampai pada tahap memiliki kecakapan sikap.
  • Guru menciptakan iklim belajar yang menunjukan situasi harmonis  dengan  cara mengembangkan sikap demokratis melalui musyawarah, menjauhkan sikap intimidasi, menjauhkan sikap saling mencurigai, menjauhkan  kekerasan fisik dan mental. Iklim harmonis yang dikembangkan dengan sikap positif  tersebut akan dapat memberdayakan semua siswa  mengekspresikan hak-haknya, mendapatkan  pelayanan, penghargaan dan keadilan ,  serta memperoleh kesetaraan sosial dalam keberagaman di kelas. Proses pembelajaran seperti ini menjadi media yang sangat efektif untuk transformasi sikap dan tata nilai.
  • Selain itu manajemen satuan pendidikan perlu mengembangkan ragam bidang peminatan yang mempresentasikan bakat minat keberagaman siswa di sekolah, menyediakan berbagai layanan ekstra kurikuler untuk mengembangkan potensi siswa yang beragam, serta bimbingan konseling  yang kompeten untuk  memenuhi kebutuhan perkembangan yang berbeda-beda dari setiap siswa, termasuk kebutuhan personal dan sosial,  kebutuhan vokasi dan karier, kebutuhan psikologi dan perkembangan moral spiritual siswa.

Sekolah yang berhasil menyelenggarakan  pendidikan multikultural akan menjadikan satuan pendidikannya mengwujudkan hal yang disebut normative future bagi siswa.  David Miller mengemukakan tiga istilah terkait masa depan yaitu  potensial future , plausible future dan normative future. Potensial future adalah  masa depan dengan berbagai hal yang mungkin terjadi, plausible future adalah masa depan dapat  terjadi sesuatu dan  terhindarkan sesuatu  karena dilakukan tindakan atau intervensi  sejak dini yang bisa mengarahkan atau mengubahnya. Sedangkan normative future adalah Masa depan yang memberikan kesempatan terbuka karena sudah dilakukan tindakan intervensi sejak dini. Melalui pendidikan multikultural di sekolah, akan terbentuk siswa yang memiliki kebanggaan akan jati dirinya dan jati diri keIndonesiaan serta penguasaan kultur global yang menjadi life skill yang sangat berguna bagi siswa dalam hidup di masyarakat dengan beragam kultur. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan multikultural merupakan salah satu bentuk intervensi sekolah sejak dini yang menjadikan siswa kompeten sehingga masa depan  dengan multikultur  menjadi peluang bagi siswa. Inilah perwujudan sekolah mencapai pilar pendidikan learning to live together.

KALENDER

Agustus 2016
S S R K J S M
« Apr   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

DOWNLOAD AREA

Klik Di Sini